Kamis, 26 Februari 2009

Bapaknya si mas


Menulis ini, membuat saya tiba-tiba teringat dengan papa saya. Honestly, saya ngga pernah dekat dengan sosok beliau. Setiap beliau hadir ke hadapan saya, seolah-olah beliau adalah sosok yang asing untuk mata saya, bahkan untuk hati saya.
Dalam keadaan seperti sekarang, dengan kondisi jiwa dan umur yang sudah mencapai hampir seperempat abad seperti saat ini, saya secara pribadi sih ngga ngerasa ada masalah dengan hal itu. Tapi hati saya menjadi demikian tersentuh dan merasa butuh jika ada suatu moment dimana saya mendapati seseorang, entah teman saya atau hanya orang lain sedang beradegan sangat kompak dengan bapaknya, ayahnya atau papanya. Saya seperti disadarkan -secara ngga sengaja- oleh adegan anak dan bapak melalui moment itu.
Mengingat kembali papa saya, yang terbayang adalah laki-laki yang lumayan tampan untuk orang seumuran beliau. Dengan gaya yang perlente, selalu up to date dengan perkembangan terkini, bahkan dengan lagu-lagu terbaru. Bukannya saya malu, harusnya saya mengerti, mungkin itu salah satu cara papa saya supaya dia lebih dekat dan seperti sahabat dengan anaknya. Tapi entah kenapa, saya justru lebih nyaman dengan sosok seperti bapaknya si mas, yang enggak update lagu terbaru. Yang beliau hapal adalah lagu-lagu bernuansa rohani, dan doa apapun yang sering saya minta lewat sms.
Jadi inget waktu lebaran haji taun kemaren. Saya sengaja enggak pulang ke rumah di Sidoarjo, tapi pulang ke Banjarnegara, kotanya si mas. Saya sudah beberapa kali kesana sih, mulai dari masih berstatus temen, teman tapi dekat, pacar, ampe calon mantu *selentingan yang beredar sih gitu, tak urung bikin pipi ini memerah juga*.
Waktu itu, si bapak sedang dipercaya ama warga desa untuk memimpin sholat ied di lapangan. Yang namanya penduduk kampung, biasanya sih emang gitu, kalo bikin acara keagamaan yang besar, mereka prefer untuk ngadain acara di tempat semacam lapangan, or balai desa. Saya seneng banget, meskipun agak risih karena diliatin melulu, seakan-akan saya orang dari planet lain *bukannya memang iya? hahaha* tapi ini adalah pengalaman luar biasa buat saya. Seneng, karena bisa sholat ied, dimana sosok yang menjadi imam untuk orang-orang seluruh kampung adalah seseorang yang dekat denganmu.
Saya sayang sama orang tua yang satu itu, bertekad untuk tetap selalu menganggap beliau sebagai ayah (dalam arti jiwa, yang tidak pernah saya dapatkan dari ayah saya yang sebenarnya) meskipun, apapun yang akan terjadi dengan hubungan saya dan mas. Semoga sih, buat beliau saya juga adalah anak perempuan-nya yang kesekian. semoga...

Jumat, 20 Februari 2009

kemungkinan lain


Akhir-akhir ini, si mas suka sekali berlaku agak tidak biasa. Mungkin ini adalah bentuk romantisme menurut dia.
Seperti tadi malam. Tiba2 dia ngajak ketemuan di awal minggu, sesuatu yang ngga biasa.
Saya, yang ngga pengen menyia-nyiakan waktu yang saya punya dengan tenggelam pada rutinitas pekerjaan -yang ngga bakalan abis meskipun saya berikan semua waktu yang saya punya- mengiyakan ajakan dia untuk sekedar ketemu barang sejam sekalian dia ngambil uang di ATM deket kost.
Sebenarnya, semalam adalah pertemuan biasa sih. Ngga ada yang istimewa (maksud saya, lain dari yang lain) meskipun bagi saya yang sudah menghabiskan waktu 4,5 tahun bersamanya dalam rentang jarak yang lumayan, selalu beranggapan bahwa setiap pertemuan kami adalah sesuatu yag istimewa.
Yang membuat berbeda adalah topik yang dia ingin ceritakan malam itu.
Ada dua hal :
1. Bahwa mulai hari selasa sampai kamis, mungkin dia akan tugas ke Pelabuhan Ratu dan kami ngga mungkin ketemuan di tengah minggu.
Ini sebenarnya sih dia lagi jaga-jaga, karena penyakit norak saya suka kumat ditengah2 minggu dan pasti ngambek berat kalo dia ngga bisa (duh, kolokan banget ya saya?)
Tapi dia menjanjikan bahwa dia akan balik Bogor (iya..iya cileungsi tepatnyaa...^.*) sebelum kami berangkat ke Solo akhir minggu ini dalam rangka acara MUbes Ajusta Brata, keluarga kami.

2. Hal kedua ini yang membuat saya deg-degan karena sebetulnya minggu ini adalah minggu yang menentukan akan bagaimanakah rencana kedepan yang kami rencanakan.
Jujur saja, saya sebenarnya agak gemetaran kalo mikir bahwa minggu ini adalah minggu penentuan dimanakan si mas akan ditempatkan berikutnya. Resiko pacaran -dan menikah mungkin- dengan orang sipil adalah bahwa pekerjaan dan profesi mereka yang ngga pernah state di satu tempat dalam waktu yang lama.

Padahal si mas sudah diterima di BUMN yang bergerak di bidang manufaktur, meskipun ngga jauh juga dengan profesi sipilnya. Tapi hal itu engga bikin hati saya lebih lega karena kemungkinan dipindah tempat kerja -dan hukumnya fardhu ain- adalah masih ada.
Saya cuma bisa pasrah dan bersiap-siap menerima kenyataan apabila ternyata akan ada babak berikutnya dimana cinta kami sekali lagi akan dipertanyakan oleh rentangan jarak.
Tapi yang membuat saya sedikit ternganga malam itu adalah karena jarak yang dia maksud kali ini bukan lagi tentang berapa jauh jarak antara Jakarta-Surabay yang merupakan jarak terjauh yang pernah memisahkan kami.
Mungkin tidak akan terpikir untuk setiap setidaknya sebulan sekali untuk ketemuan ama mas di Solo seperti dulu lagi, hanya untuk ketemuan selama beberapa jam, berbincang, bercanda dan menghabiskan waktu bersama. Mungkin kali ini, hal itu tidak akan terpikirkan.
Bukan juga bentangan antar pulau yang masih terpikir karena masih di belahan bumi negeri bernama Indonesia. Tapi ini lain.

"Bosku bilang, salah satu dari kami akan dikirim ke Aljazair" katanya. Deg... jantung saya berdetak lebih cepat.

Ini adalah kemungkinan yang sama sekali diluar perkiraan saya. Sebenarnya, dalam rangka menyiapkan diri dan mengatasi kemungkinan berpisahnya kami kembali, saya sampe hunting kemungkinan pekerjaan lain. Jaga-jaga saja, siapa tau dia ternyata ditempatkan di Surabaya misalnya.
Saya pun men-apply pekerjaan yang sekiranya memungkinkan saya dapat berpindah tempat dengan alasan mengikuti jejak -calon- suami saya.
Tapi Aljazair, adalah kemungkinan yang jauh dari jangkauan saya. Ngga kepikir gimana caranya supaya kami bisa tetap bersama.
Terlebih jika memikirkan kemungkinan mama saya yang pengen tinggal dengan saya jika saya menikah kelak.
Membawa mama sampe ke Aljazair? saya pikir itu bukan opsi yang bisa saya pilih.

Tapi urusan menikah memang adalah menyangkut sesuatu yang kadang memang diluar kuasa kita untuk bisa mengaturnya.
Mungkin juga Tuhan sedang menguji kepasrahan saya serta niat kami menikah...

Minggu, 04 Januari 2009

Maybe I'm Dying about Marriage...

Hal-hal yang selalu membuat saya tertarik akhir2 ini sangat mendefinisikan tentang betapa desperate dan mendambakannya saya mengenai pernikahan.
Bukan, bukan tentang betapa akan menjadi sesuatu yang momentum tentang ceremonial dan tetek bengeknya.
Bukan, bukan tentang megahnya acara yang akan digelar dan banyaknya tamu undangan yang akan berdatangan pada acara resepsi.
Hal-hal seperti itu berada di bottom of my list. Bahkan cenderung tidak terpikirkan sama sekali.
Terus terang saja, buat saya, semakin simple acara pernikahan, maka akan terasa semakin sakral. Karena fokus kami, dan keluarga hanya pada acara yang penting. Bukan tentang bagaimana kami akan diributkan ketika kabel kurang panjang dan lamu kurang terang. Saya ngga pengen diributkan dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Apalagi jika hati menjadi deg-degan jika semua yang dipesan melampaui budget yang saya sediakan. Saya ngga pengen dirisaukan dengan pikiran yang demikian.
Yang akan menjadi fokus saya adalah memikirkan bagaimana saya dan suami saya kelak akan menjalani hidup kami. Bagaimana membuat pondasi yang kuat dan menata keluarga yang kami idamkan hingga hati menjadi lebih tenang seperti yang rasul ajarkan.

Jika menilik pada kebiasaan saya akhir-akhir ini antara lain :
1. Suka banget buka kolom di www.kompas.com tentang properti dari pada kolom perempuan seperi kebiasaan saya dahulu.
2. Suka banget koleksi leaflet perumahan
3. Suka banget bookmark URL2 untuk perabotan dan sodara2nya.
4. Suka banget baca entrian jika sudah menyangkut tentang kehidupan rumah tangga.
5. Prefer membeli dvd tentang marriage life daripada tentang woman's life atau pilem romantis lainnya.

God, am I dying about Marriage?

Senin, 22 Desember 2008

Our Conversation -marriageable-

Hari minggu, 21-12-08. Perpaduan tanggal yang bagus untuk pertemuan pertama kami setelah seminggu penuh ngga ketemu. Buatku, ini adalah babak bonus (inget ngga klo kamu maen game, en dapet babak tambahan untuk dapetin score lebih tinggi?) dalam cerita sakti dan permata (our middle name). Hari ini secara kebetulan, kami berdua diharuskan bekerja *yup, it's no longer sunday for me* karena -kebetulan lagi- kami sedang mengerjakan project -dikantor dan tempat yang berbeda- dan tanggung jawab ini membuat kami harus rela mengorbankan waktu berdua.

But it's my luck. Jadwal yang belum begitu ketat membebaskanku ketika sms itu dikirim olehnya yang sengaja membelokkan arahnya pulang ke Bogor, dari Sukabumi ke Jakarta (yang lebih mudah ditempuh lewat tol), hanya untuk 4 jam pertemuan kami.
Adalah 4 jam berharga milik kami, untuk ngobrol dan sekedar bercanda, karena bersamanya diri ini merasa bebas berekspresi. Satu hal yang aku selalu inget saat ada disampingnya. He's gonna hold my hand tightly, dan menciumnya. Tidak peduli kami dimana, dan menimbulkan pandangan cemburu perempuan laen yang berjalan dibelakang pasangannya. Harus saya akui, that's the romantic thing yang akan selalu saya dapat dari setiap pertemuan kami, dan dia tidak pernah bosan melakukannya, meskipun perjalanan ini sudah memakan waktu kurang lebih 1604 hari. Dan ini, tangan yang sama yang saya gunakan untuk mengetik kisah kami, yang selalu dia cium setiap kali dia merasa ingin menghibur saya.

Seperti kisah kami di kota Solo waktu itu. Setelah menyelesaikan makan malam -kami sengaja memilih bakso untuk menu makan malam- secara ngga sengaja, pembicaraan kami menuju ke arah teman saya yang akan melangsungkan pernikahan tahun depan, dan berencana menghabiskan masa lajang terakhirnya dengan acara keliling Jogja dengan saya.




Si ewiet kemaren onlen- kata saya mengawali pembicaraan.

Trus, ngobrol apa? - tanya dia masih sedikit tertarik dengan topik kami.

Ngga banyak sih, cuma endingnya bikin aku shock.

Kenapa emang?- dia masih sambil makan bakso yang ukurannya lumayan gede.

Ternyata dia mo merried bulan april taun depan.

Owww....- responnya singkat

Kok gitu doang...- saya agak kesal.

Trus mau komentar apa? - nada dia agak meninggi.


Dia diam, begitu juga saya. Terjadi dead air dalam pembicaraan kami. Selalu akan begini sebenarnya. Semua pembicaraan mengenai pernikahan, pertunangan, dan sebangsanya menjadi topik yang sangat sensitif bagi kami akhir2 ini. Saya diam, dia pun tetap diam. Kami tidak tau, apakah harus meneruskan topik ini ataukah memilih topik lainnya.


Aku pengen jujur nduk - katanya memulai pembicaraan.
Tentang? - tanya saya dingin. Saya masih kesel. Ngga tau jelasnya kenapa dan untuk apa.
Jujur aja, aku selalu ngga ngerti harus berkomentar apa kalo kamu bercerita tentang topik ini. Saya masih diam.
Aku seperti kamu haruskan untuk menjawab, padahal ngga ada yang perlu aku jawab.
Dia meraih tangan saya lagi. Saya tetap diam.
Kamu, aku, kita, adalah yang tau kondisi kita sebenarnya bagaimana.
Jangan kamu pikir aku nggak pengen kita segera menikah. Tentu saja aku menginginkannya sebesar keinginanmu.
Hanya saja, mungkin kita masih harus menunggu sebentar lagi.
Keinginanku adalah, supaya mimpi kita tetap berjalan.
Kalo cuma nikah, mungkin besok kita bisa. Tapi lalu bagaimana dengan mimpi kita?
Jika dengan menunggu sebentar lagi kita bisa melakukan semuanya, kenapa tidak?

He keep saying, and I just cant listening.
Tuhan, kenapa saya demikian egois. Saya tidak memikirkan perasaannya ketika saya mengatakan kepadanya bahwa dia seperti tidak membawa hubungan kami kemanapun. Tuhan, kenapa saya tega mengatakan hal yang demikian menyakitkan pada laki-laki yang saya sayangi dan ingin saya nikahi. Saya ingin menangis saat itu juga. Tapi inget tempat dan sedikit sadar diri. Maka saya beranjak dan mengajak dia balik ke kos-an saya.

Di tengah perjalanan, saya pegang tangannya lebih erat dari pegangannya. Terpekur, saya hanya mampu menatap tanah. Saya minta maaf. Saya sungguh menyesal dengan perkataan saya. Sampai mau tidur pun saya masih kepikiran kata-katanya hingga tanpa sadar air mata saya keluar perlahan membasahi bantal saya. Hingga sampe saya terima sms dari dia yang berbunyi seperti ini.

"aku tau, dengan kita dekat memang banyak hal yang menjadi fokus kita karena masalah jarak sudah tidak ada. Kita jalani semuanya dengan bareng2 seperti saat kita terpisah. I love u"

Lalu saya pun tertidurr....





Rabu, 17 Desember 2008

at my lowest line of ambition...


Udah 3 hari. Terhitung dari hari senin kemaren. Ketika satu macam pertanyaan begitu banyak datang kehadapanku. Saat mulut ini ngga tau lagi gimana menjawabnya. Secara otomatis, diri ini seperti terjerembab turun ke posisi yang paling rendah dalam garis ambisiku.

Apalagi bulan ini (dan beberapa bulan sebelumnya siihh...), sepertinya semua orang berbondong-bondong menutup akhir tahun ini dengan menggelar acara pernikahan. Jangan disebutkan deh, berapa banyak undangan yang nyampe kehadapanku. Baik dalam bentuk fisik maupun lewat friendster atau blogspot atau website (apa sekarang udah musim kek gitu yak?? sengaja mengirit kertas dalam rangka menghemat batang pohon atau emang itu cara yang paling mudah dimana teknologi sudah menjamur layaknya gorengan?)

Sepertinya menikah, memang step terbesar yang pernah dibaut seseorang dalam hidupnya. Aku masih inget, kemaren kesasar di blog seorang forografer -panggilannya pram- yang emang ahli bikin vintage prewedding, wedding fotography. Sesaat hatiku trenyuh. Saat-saat menuju pernikahan memang penting untuk dikenang dan diabadikan. Detik-detik dimana status kita akan berubah, tanggung jawab akan menambah, saat-saat dimana kalimat suci itu diucapkan dan apa yang tadinya self orientation menjadi our orientation.


Coba aku hitung deh undangan yang datang minggu ini : 2 dari teman SMA yang soundingnya udah dari bulan oktober kemaren (Radiq en Ielma -hehehe, bukan radiq nikah ama Ielma, tapi radiq en pasangannya, ama Ielma en Dharma) kemudian satu dari teman dikantor (amri -yang nikah tanggal 20 minggu ini), lalu satu dari teman jaman kuliah (Banov en Erna tgl 14 des minggu lalu, bukannya pulang ke solo demi menghadiri pernikahan mereka, kami -ajustabrata geng- justru merencanakan ke Dufan karena waktu yang terlalu mepet untuk pulang), satu lagi datang dari teman dari pekerjaan sebelumnya (Imoet amit _Novie, yang undangannya belon nongol), lalu satu lagi dari teman GDP (aku sih bukan GDP, kebetulan aja kenal ama mereka, sepaket deh kenalannya) si Iqa diBandung untuk tgl 28 desember 08. Sayangnya tanggal segitu aku dah meluncur dan mungkin ke rumah coz udah rencana mo bikin SIM (Yippe, awal bulan depan motorku dah boleh diambil). Yah itulah, total ada 7 undangan yang sepertinya kesemuanya ngga bisa kuhadiri tepat waktu. Mungkin nanti akan menyempatkan diri nyambangi Radiq en Ielma waktu pulang.

Sedihnya... saat ini aku benar-benar berada dalam level yang kritis menghadapi optimisme pernikahan. Even for my self! Aku seperti berada di lowest level of ambition jika sudah menyebut hal yang berjudul Married. Entah kenapa...

Tadinya, beberapa bulan yang lalu kira2 bulan maret atau april lah, saat dimana kami (aku dan si mas) mulai serius membahas rencana pernikahan. Adalah tahun depan, kami berencana menuju kesana : menikah. Rencana yang baik ini kami niatkan dalam hati, diiringi dengan doa dimana semoga niat ini diamini oleh para malaikat disana, dan dimudahkan jalannya.

Sedikit gambling sih rencana itu. Mengingat saat itu kondisi kami masing-masing masih dalam tahap awal meniti karier. Aku baru aja diterima kerja (dan masih harus berjuang supaya diterima jadi pegawe tetap diakhir tahun ini) lalu masku, baru aja keterima jadi pegawe di PMA yang bergerak di bisnis semen (bukan calon pegawe tetap sih, makanya akhirnya dia mengundurkan diri). Tapi niat kami tulus dan insyaalloh kuat, meskipun baru dari diri kami sendiri berdua, tapi setidaknya kami memberanikan diri membahas masalah ini lebih dalam. Beda dengan tahun-tahun sebelumnya ketika pertanyaan tentang pernikahan kami jawab dengan jawaban aman : biarkan mengalir seperti air.

Lalu episode empat terjadi lagi, dimana jarak -sekali lagi- merentangkan tangan kami terlalu jauh. Aku pikir aku akan sanggup setelah cinta kami nyatanya teruji dan kami lolos dari babak-babak berikutnya. tapi emosiku masih ambigu dan terlalu fluktuatif. Pada episode ini aku terlalu banyak pertanyaan tentang komitmen. Terlalu banyak sensitif jika pembicaraan kami mengarah pada pernikahan. Seperti selalu merasa salah karena menempatkan dia pada posisi yang tidak bisa dia jawab, padahal aku nyata-nyata mengerti dan tau pasti kondisi kami seperti apa. Yang aku tau dan ingin hanya tentang diriku sendiri *hmmm, aku juga heran kenapa menjadi too much one direction begini* dimana selalu dan selalu -hampir setiap saat- aku ingatkan dirinya tentang inginku, melalui gerbang itu. Aku semakin tidak mengerti diriku sendiri.

Tapi hebatnya. Dia begitu sabar menghadapiku. Mengimbangi semua titik fluktuasiku dan selalu mendampingiku meskipun secara nyata dia tidak berada didepanku. Aku bangga, sekaligus menyesal kenapa masih saja diriku ini kembali ke sosok childish ketika angan ini menyentuh garis mimpi. Kenapa aku masih saja tidak ingin mengerti bahwa asanya sama besarnya denganku. Kenapa aku tak juga paham bahwa dia selalu berusaha mendekat karena dia tidak ingin diriku berhenti bermimpi dengan adanya pernikahan kami kelak. Kenapa aku tidak mau memahami bahwa sampai ke titik yang paling detail dia begitu ingin menjagaku dan keinginannya memilikiku juga sebesar inginku. Tuhan..., kenapa aku menjadi demikian egois?


Lalu, sampailah aku dilevel ini. Menjadi pribadi yang sangat pasrah terhadap keinginan berjudul pernikahan. Aku tidak ingin menyakiti hati lelakiku itu, dengan terus menerus menanyakan perihal yang sama padahal sebenarnya secara sadar aku sudah tau jawabannya. Aku tidak ingin menguji kesabaran lelakiku itu dengan meminta hal yang dia sendiri masih mengusahakannya. Dan yang pasti, aku tidak ingin -dan takut- dia akan kehilangan kesabarannya terhadapku pada saat mimpi kami masih mungkin untuk diwujudkan.

Here I am, at my lowest line of ambition... Karena aku tau, future itu mystery. Nyatanya aku percaya bahwa jodoh itu masih ada diantara kami -buktinya masku diterima kerja di Jakarta sehingga untuk sementara jarak itu tidak lagi ada- setelah episode empat itu sekali lagi berhasil kami lalui. Nyatanya kami masih percaya cinta kami kuat, dan aku membutuhkannya bukan lagi sebagai kekasih tapi juga sahabat, teman, kawan dalam hidupku.

jay saktiwibowo wrote :

"ratna permatasari, ya ratna, panggilannya Na, aku panggil dia sayang, karena memang aku sayang dia. Ngga tau karena apa, senyumnya bikin aku kangen terus, lebih tepatnya ketawanya. Lepas, tanpa tameng, tanpa topeng. Yah, aku begitu mencintai wanita ini... Hmmm... waktu dah hampir pagi, aku belum tidur. Masih kepikiran dia yang mungkin sedang sedih malam ini"

_semoga mimpi ini berujung nyata_

Cheers

Na

Rabu, 03 Desember 2008

nunggu apa lagi??


Akhir-akhir ini semakin banyak pertanyaan seperti itu ditujukan kepadaku.
Semalam, woman's day out. Kami, cewek-cewek nan geulis penunggu kos Amanda (nama ibu kos kami, wkwkwk...maap ya bu...) Perum Griya Kenari mas blok A4 berencana mendatangi rumah teman kami yang beberapa minggu kemaren sudah melangsungkan perhelatan akbar berjudul "Menikah"...

Setelah muter-muter ngga jelas ke perumahan berjudul Permata Cibubur (padahal keknya udah ngga masuk daerah cibubur) akhirnya nyampe juga kami di rumah mba Aulia. Jangan nanya gimana perjuangan kami, atu si May sih tepatnya mengingat mobil Hyundai tongkrongannya lagi kehabisan oli jadi power steeringnya berat banget. Ditambah lagi penghuni jok belakang (gw, Charpri, Mba Filsa) ngga bisa disebut sebagai cewe bertubuh sintal (hallah... membuka aib nihh)...

Singkat kata, perjalanan terselamatkan tanpa menghabiskan banyak waktu lagi, karena dengan cerdasnya Mba Lia ngambil
inisiatif untuk menjemput kami (padahal dia jalan lohhh) di pertigaan menuju ke rumahnya. Dan, singkat kata sampailah kami di rumah mba Lia. Not a biggest one, but not the smallest one also. Cukup lumayan untuk pasangan suami-istri yang baru aja memulai hidup baru. Pilihan mba Lia cukup tepat, karena letak dari perumahan ini memang cukup mudah dicapai tapi tidak berisik. Dengan lingkungan yang homy dan tenang keluarga baru itu tampak serasi.

Tak bisa dipungkiri. Wajah akuarium milikku pasti tidak dapat menyembunyikan aura bahwa aku juga menginginkan yang seperti ini. Who doesn't anyway? Tidak harus persis seperti ini, tapi yah...semacam ini juga boleh.

Lalu, setelah panjang lebar segala pembukaan. Cium pipi kiri kanan, kangen-kangenan, sedikit introgasi keadaan rumah (ada kolam kecil yang dimiliki oleh semua rumah diperumahan ini, bikin iri!), sampe ke kamar tidur (hehehe, tenang aja, cuma ngeliat kok, ngga sampe masuk dan nyobain kasurnya...) sampailah kami ke pembicaraan dimana pertanyaan dahsyat itu ditujukan untukku.

"Nunggu apa lagi Na???" tanya mba Lia. Satu detik pertama, tidak bereaksi. Seakan inderaku menolak ada pertanyaan semacam itu. "Aku tinggal jawab iya mba, sayangnya ngga ada yang mengajukan pertanyaan sebelum jawaban iya itu aku berikan" -ini elakan pertama.
Semua ketawa, tapi hatiku miris. Aku juga bingung, miris untuk apa? toh semua sudah ada yang menentukan, sudah ada yang mengatur, entah... aku juga tidak tahu.

Iri berikutnya, ketika mba Lia ngasih ke kita rekaman pas dia Ijab. "Saya terima nikahnya..bla..bla..bla.." Merinding rasanya seluruh tubuh, serasa akulah yang diiJab hari itu.
That's still a mystery for me...
even my man in the same city right now...
pertanyaan tentang kapan kah kami melangsungkan pernikahan... masih juga misteri... satu bukti lagi, bahwa kami masih belum berani mengambil resiko mengecewakan hati kami masing-masing...

Lalu pertanyaan "nunggu apa lagi?" masih belum dapat kami jawab.
Karena sebenarnya, aku pun tak tahu apa yang aku tunggu...

Good Night...

Cuplikan conversation kami malam ini :
jay_saktiwibowo says:

Atau dgn kt lain ak pgn dan brusaha mwjdkan keingnan,dan harapan kita...

Semoga harapan itu terwujud... Amieenn...

Sabtu, 16 Agustus 2008

Here I am, in my "home" sweet home

at Markas again, seperti kembali ke masa-masa telat pulang kos...masa-masa tidur gaya pindang di markas...masa-masa menghabiskan malam ama keluargaku, who always there for me...

ada mas kentus, yang selalu aja puas ngeceni aku dengan pantat ku yang selalu aja menjatuhkan barang-barang yang kulewati, plus..ninutnya yang teteup kecil (ugh, membuatku terlihat sangat besar kalo berdekatan..hehehe..).

Ada katak, yang baru aja dengan suksesnya diajarin gimana caranya ngeadd foto, and memaintain friendsternya...(ya oloh dok, plissss dehhhh...generasi millenium koq baru belajar friendster, where the hell u've been?)

ada gentar, yang selalu-hehehe, menyediakan akses full internet buat markasku tercinta (uuu... aku tau apa sebabnya anak2 abe yang kurang doyan ngewarnet itu jadi up to date bangeed soal internet-internetan...hehehe, ini dia sumbernya!!!)

Ada mas edi, yang sekarang rambutnya gondrong bangeeddd...hehehehe, mungkin model rambut nidji baru aja ngetren di sambungmacan(hehehe, mana pula ituhhh??)

Ada si Jono, yang masih aja,hehehe. Hal yang akan pertama ditanyakan kalo kamu ketemu mahkluk ini adalah : Mbak, makanannya mana?? heheheh, hueran aku, kok ya ada makhluk kayak gini, diotaknya yang ada keknya hanya file2 makanan complete, ada di main folder. kalopun ada file lainnya, itu mah kebetulan aja, gak ketindihan file2 makanan hapalannya... wkeeekekeke =))

Ada kambingku, ehm... masku ding...ehm...cintaku ding...ehm... moga-moga calon suamiku...
uuu, kaosnya beneran keren euy, tadinya sih niatan mw dibeliin ama dia, ugh, tapi gag jadi, coz duitnya udah berubah bentuk jadi Hape SE k320i, hehehe, ya sud lah... moga2 besok2 bisa YM-tiny ama na...bisa ngirit and all the time...

Hampir lupa,

Ada mas Nggawak, tapi sayang, mbak upiknya gag dibawa, padahal pengen liat si embakknya itu lagi hamil 7 bulan...tadi si dipamerin cincin nikah,... heheh,pengen juga sih,tapi gak pengen yang warnanya kuning begettooo...

Yang belum ada dan pengennnnnn banget ketemu :
1. Mas Muluk + mbakku seng paling ayu sak karanganyar
2. Mas Jap
3. Mas Heri ABe
4. Popo Iskandar
5. Anggun
6. Mas samsul (tapi keknya dia gag datang kali ini)
7. Jane,
8. Adeekk -adek semuanya
8. Kakak2 semuanya
9. dan Teman2 semuanya..(Gupronnn, kenapa tadi gag bisa ditelp, Anggoro: cepetan pulang ke solo,jangan lupa kaos jogernya... hehehehe)

Semoga, ABe akan tetap memberikan ketenangan dihati seperti ini, semoga tempat ini akan selalu menjaid tempat yang aku rindukan sampe kapanpun. Ameeennn